Aksi Kolaborasi Ekspresi Literasi: Relevansi Pemikiran Paulo Freire sebagai
 Protes Pendidikan di Kota Palu


Kamis, 2 Oktober 2025 telah terlaksana sebuah kegiatan diskusi;"Sudut Paradigma Kopi: Aksi Kolaborasi Ekspresi Literasi". Dengan tema“Relevansi Pemikiran Paulo Freire sebagai Protes Pendidikan di Kota Palu Secara Mayoritas”. Kegiatan ini bertempat di Gedung Kearsipan dan Perpustakaan Kota Palu.

Diskusi ini mengangkat isu pendidikan dengan menggunakan pandangan "pendidikan menurut Paulo Freire". Pendidikan menurut Paulo Freire sangat identik dengan konsep pendidikan kaum tertindas, yang berfokus pada mengkritik model pembelajaran.

Paulo Freire dikenal sebagai sosok yang menolak model pendidikan “gaya bank” (banking model of education), di mana peserta didik diposisikan hanya sebagai objek pasif yang menerima pengetahuan dari guru. Sebaliknya, ia mengusulkan pendidikan sebagai praktik dialogis, yang partisipatif dan memungkinkan peserta didik menjadi subjek aktif dalam proses belajar. Dalam konteks Kota Palu, pemikiran ini menjadi sangat relevan mengingat adanya keresahan terkait model pendidikan yang cenderung top-down, tidak kontekstual, serta minim ruang refleksi dan kritik dari para siswa maupun guru.

 Pada kegiatan ini ada empat pemateri yaitu :Aroel Firmansya,Wahyu Hidayat, Muhammad zikrullah, dan bung Ridwan. Keempat pemateri tersebut memaparkan perspektif mereka masing-masing mengenai relevansi pemikiran Freire di tengah realitas pendidikan di Kota Palu. Mereka mengulas bagaimana pendekatan pendidikan kritis dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan yang kaku dan tidak membebaskan. Setelah sesi pemaparan materi dilanjut dengan sesi diskusi atau tanya jawab, Teman-teman yang menghadiri diskusi dipersilahkan untuk bertanya atau memberikan tanggapan terhadap pemaparan materi yang telah disampaikan oleh pemateri sebelumnya.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang tukar pikiran, namun juga merupakan bentuk konkret dari aksi kolaborasi ekspresi literasi, di mana literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai kesadaran kritis untuk memahami realitas dan berpartisipasi dalam mengubahnya.

Repotase: Wahyuni
Dokumentasi: Afifah