Kasus kekerasan mahasiswi yang baru-baru ini terjadi di lingkungan UIN Sultan Syarif Kasim tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga memperlihatkan potret wajah lain dari ruang publik kita: pertempuran opini di tangan-tangan netizen. Alih-alih berfokus pada keselamatan korban dan akar persoalan kekerasan, lini masa media sosial justru dipenuhi perdebatan yang terbelah. Sebagian warganet berdiri tegak membela korban dan mengecam tindakan pelaku, sementara sebagian lainnya mulai menggali-gali masa lalu, mempertanyakan pilihan pribadi korban, bahkan mencoba memahami motif pelaku seolah-olah ada penjelasan yang bisa membuat tindakan tersebut terasa “masuk akal”. Polarisasi ini menunjukkan bahwa dalam kasus kekerasan, yang sering diperebutkan bukan hanya fakta, tetapi juga arah empati kepada siapa simpati diberikan, dan kepada siapa beban pembuktian moral dibebankan.
Alih-alih mengutuk tindakan pelaku, sebagian orang justru sibuk mencari celah pada korban. “Mungkin dia selingkuh.” “Pasti ada sebabnya.” Seolah-olah selalu ada alasan tersembunyi yang membuat kekerasan itu masuk akal. Seolah-olah penolakan cinta adalah lisensi legal untuk mengayunkan senjata tajam.
Ego pelaku yang rapuh disebut “patah hati mendalam”. Emosinya dimaklumi. Lukanya dipahami. Namun ketika seorang perempuan menggunakan haknya untuk berkata TIDAK, ia justru dicurigai, bahkan dituduh memprovokasi. Di sinilah kita melihat betapa tidak seimbangnya empati bekerja. luka laki-laki dirawat, tetapi batasan perempuan dipersoalkan.
Syarat mendapatkan empati terasa begitu berat. Korban harus menjadi “yang sempurna” — tanpa cela, tanpa masa lalu, tanpa kesalahan sedikit pun. Jika ia punya cacat sedikit saja, maka kekerasan yang dialaminya dianggap sebagai “konsekuensi logis”. Inilah wajah (victim blaming) yang sering kita abaikan. Menyalahkan korban secara halus sambil tetap merasa diri bermoral.
Jika sebuah penolakan sanggup meruntuhkan dunia seseorang hingga ia memilih melukai orang lain, maka yang salah bukanlah pilihannya untuk berkata tidak. Yang salah adalah mentalitas yang tidak mampu menerima penolakan.
Jika kita terus memaklumi pelaku dan menginterogasi korban, maka kita bukan sedang mencari keadilan — kita sedang merawat budaya yang membenarkan kekerasan.
Empati seharusnya tidak bersyarat dan “TIDAK” seharusnya cukup.
Oleh : Tim 3

Tidak ada komentar
Posting Komentar