Pada Sabtu, 29 Oktober 2022, Lentera Sastra IKAMABASTRA FKIP UNTAD melakukan kunjungan literasi ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah. Sekitar 11 orang yang ikut berpartisipasi dalam kunjungan literasi tersebut. 

Tepat pukul 09.00 pagi, kegiatan kunjungan literasi tersebut dimulai dengan masuknya kami ke gedung utama perpustakaan tersebut. Kami disambut hangat oleh staf-staf yang ada disana. Saat masuk ke pintu gedung utama tersebut, kami langsung diperkenalkan dengan ruang-ruang yang ada disana. Diantaranya ruang sirkulasi (tempat pengembalian buku), ruang untuk membuat kartu keanggotaan perpustakaan, serta ruang baca yang terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya ruang baca dewasa, ruang baca umum, ruang baca anak, ruang baca remaja, ruang referensi, dan juga ruang deposit.

Dari hasil wawancara dengan staf yang ada disana, dijelaskan bahwa ruang baca tersebut dibagi sesuai dengan umur pembaca, karena tentu jenis bacaannya pasti berbeda-beda. Dan mengenai peminjaman buku, apabila ada yang ingin meminjam buku, tentu harus masuk dalam keanggotaan perpustakaan terlebih dahulu. Dan cara untuk mendaftar menjadi anggota perpustakaan sangat mudah. Hanya membutuhkan KTP dan pembuatan kartu anggota tersebut gratis tanpa dipungut biaya apapun.

Dan selanjutnya ada ruang referensi, di mana ruang referensi ini berisi buku-buku ensiklopedia, kamus, handbook atau buku pegangan dan juga buku undang-undang. Buku-buku yang ada di dalam ruang referensi ini tidak bisa dipinjamkan, hanya bisa dibaca di tempat. Sesuai dengan namanya : *ruang referensi*, buku-buku yang ada di dalam sana hanya digunakan sebagai referensi. Pembahasannya singkat-singkat, bukan berupa penjabaran masing-masing topik. 

Dan yang terakhir adalah ruang deposit. Ruang deposit ini adalah ruangan sejarah peradaban Sulawesi Tengah. Jadi buku-buku yang diterbitkan di Sulawesi Tengah tentang Sulawesi Tengah akan ditempatkan di ruang deposit ini. Meskipun terbitan luar, namun apabila menceritakan tentang Sulawesi Tengah, maka tetap akan ditempatkan di ruangan ini. Selain itu, ruangan ini juga berisi skripsi mahasiswa, tesis, laporan penelitian dosen, bundelan koran keluaran Sulawesi Tengah dan juga buku-buku antologi puisi.

Dari hasil wawancara tersebut, kami juga mendapatkan fakta yang sangat mengejutkan bahwa hasil penelitian kajian pada tahun 2021 menempatkan provinsi Sulawesi Tengah berada di urutan ke-29 dari 34 provinsi dalam kategori kegemaran membaca. _"Hal ini sangat disayangkan. Penyebab utama rendahnya minat baca di provinsi Sulawesi Tengah adalah smartphone. Dan generasi yang paling sial adalah generasi milenial (18-38) karena generasi ini hanya disibukkan dengan smartphone dan tidak lagi mau membaca buku-buku teks. Mereka lebih memilih membaca lewat internet. Sementara internet tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya karena apa yang ada di internet bisa jadi belum tuntas, sumber referensinya belum jelas. Dan buku tentu saja sudah jelas sumber referensinya dan sudah tuntas._ (Jelas Pak Ansar, salah satu staf yang diwawancarai).

Namun, dinas perpustakaan dan kearsipan provinsi Sulawesi Tengah telah menekankan kepada sekolah-sekolah yang ada di Sulawesi Tengah agar menjalankan program literasi. Di mana program ini mewajibkan siswa harus membaca sebuah bacaan (bacaan apapun) minimal 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Selain itu, program lainnya yang masih aktif dijalankan yakni perpustakaan keliling yang dilaksanakan oleh dinas perpustakaan dan kearsipan provinsi Sulawesi Tengah. 

Narasumber juga memberitahu bahwa apabila ada sebuah organisasi yang ingin bekerja sama dengan dinas perpustakaan ini demi meningkatkan literasi, maka dinas perpustakaan siap untuk mewadahi dengan cara meminjamkan buku secara berkala. (Sesuai dengan nama programnya : *peminjaman berkala* sistem pinjam pakai).

Dan juga yang menjadi perhatian kami yakni bahwa sekian banyaknya buku-buku yang ada di dinas perpustakaan dan kearsipan provinsi Sulawesi Tengah tersebut, berasal dari pemberian, hadiah, sumbangan, dan juga hibah. Hal ini sangat menarik karena buku-buku yang ada disana terbilang tidak sedikit, bahkan sangat banyak.