Bukan Soal Matematika, Tapi Potensi

"Setiap anak sejatinya memiliki kecerdasan yang unik yang perlu dikenali dan dikembangkan, bukan diseragamkan"

Sumber foto: Canva.id

Belajar dari berbagai pengalaman, tidak semua hal harus dipelajari secara mendalam oleh setiap individu. Di banyak sekolah, anak-anak dipaksa memahami matematika secara menyeluruh. Ini cukup memprihatinkan, karena mencerminkan kurangnya pendidikan yang inklusif di Indonesia. Penting untuk disadari bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Matematika memang berguna dalam kehidupan sehari-hari agar anak-anak mampu berpikir logis dan terampil dalam berhitung. Namun, bukan berarti semua harus dipaksa menguasainya. Di sekolah, matematika sering jadi patokan kecerdasan. Banyak siswa dituntut menguasainya, seolah itu satu-satunya ukuran pandai atau tidak. Padahal, tidak semua anak cocok dengan pelajaran berhitung. Menyamaratakan kemampuan anak justru jadi bentuk ketidakadilan yang selama ini tak disadari.

Beberapa waktu lalu, tersebar video tentang seorang siswa SMA yang belum menguasai perhitungan dasar. Hal ini tentu membuat miris, tetapi bukan berarti kesalahan sepenuhnya ada pada guru. Bisa jadi siswa tersebut memang kurang tertarik atau enggan belajar matematika. Di sisi lain, ini menunjukkan bahwa standar pendidikan di Indonesia masih menuntut semua siswa untuk unggul dalam matematika, tanpa mempertimbangkan keragaman potensi mereka. Padahal, memaksakan potensi justru bisa  mematikan semangat belajar. Mungkin saja, siswa tersebut berbakat di bidang lain. Setiap anak sejatinya memiliki kecerdasan yang unik yang perlu dikenali dan dikembangkan, bukan diseragamkan.Memaksakan potensi hanya akan mematikan semangat belajar. Bisa jadi, siswa itu berbakat di bidang lain. 

Penulis: Restina