Penulis : Kevin AL

 Bahasa secara umum merupakan sebuah simbol, suara, ataupun bunyi yang digunakan untuk komunikasi. Maka berangkat dari hal itu bahasa sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia sebab hanya dengan bahasa setiap individu bisa bebas menuangkan ekspresi dan pikirannya baik dalam bentuk narasi, ucapan, dan tindakan. Ilmu berbahasa merupakan salah satu cabang ilmu yang harus bisa dipahami oleh setiap individu, memahami disini bukan memahami dalam bentuk teori saja tapi bagaimana kita bisa memandang bahasa dari sudut pandang diri kita sendiri serta mampu menginterpretasikan bahasa di dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu film yang membahas betapa pentingnya bahasa dalam kehidupan adalah Dead Poets Society (Masyarakat Penyair Mati) salah satu film buatan peter weir seorang sutradara terkenal berkebangsaan Australia. Film ini di rilis pada tanggal 2 juni 1989, salah satu film yang berhasil meraih penghargaan film terbaik pada masanya. Dalam film tersebut menceritakan kisah seorang guru bahasa inggris ber nama Jhon Keating yang mengajar di salah satu sekolah khusus laki-laki pada tahun 1950 yang selalu memberi inspirasi kepada murid-muridnya agar selalu melakukan perubahan dalam hidup dan mengajak muridnya untuk menyukai puisi.

 Film ini sangat menginspirasi banyak orang sebab film tersebut berhasil menunjukkan betapa hebatnya kekuatan bahasa dalam merubah pola pikir seseorang, serta film ini juga mampu menunjukkan kebobrokan sistem pendidikan hari ini khususnya sistem pendidikan di negara kita sendiri yaitu indonesia. Sistem pendidikan yang seakan-akan mendikte dan memaksa murid untuk menjadi sama, dengan menggunakan parameter tertentu sehingga murid secara tidak sadar kehilangan jati diri serta kebebasan berpikir, nah dalam film ini dengan hadir nya Jhon Keating berhasil merubah semua itu pada murid-muridnya sehingga murid-murid Jhon keating pada film tersebut menjadi lebih ekspresif dan tidak terikat dengan sistem pendidikan pada film itu. 

Jika kita coba tarik sedikit lebih jauh pada masa saat ini Peter Weir lewat Jhon keating berhasil menyinggung guru bahasa hari ini yang notabene nya masih tunduk terhadap bobroknya sistem pendidikan dan selalu mendikte murid-muridnya dengan menggukanakan parameter tertentu tanpa melihat keunikan masing-masing murid itu sendiri, sehingga hal ini berakibat pada sempitnya pemahaman siswa terhadap bahasa itu sendiri. Bahasa yang harusnya memiliki keunikan masing-masing ditiap individu tapi dengan bobroknya sistem pendidikan yang selalu menekankan keselarasan ini bahasa malah menjadi pembahasan yang kurang menarik dimata para siswa. Hal inilah yang kemudian harus segera disadari oleh murid hari ini yang masih bertarung didunia pendidikan terkhusus untuk seluruh guru bahasa harusnya menjadi sosok pertama yang menentang kebobrokan sistem pendidikan dan bukan malah bersikap apatis. 


Disamping itu mari kita coba tarik lagi sedikit ke sudut pandang politik tentang bahasa itu sendiri, jika kita coba telaah lebih jauh lagi ilmu berbahasa bisa menjadi pisau bermata dua bagi orang yang menguasainya. Sebab bisa kita lihat dengan realita hari ini bahwa bahasa seolah-olah dijadikan alat propaganda oleh para elit penguasa negeri hari ini, , banyak contoh realita yang bisa kita jadikan rujukan salah satunya pada saat momen yang membutuhkan dukungan dari rakyat, para antek kapitalis itu mulai melontarkan kata-kata propagandanya untuk memanipulasi pikiran rakyat agar bagaiamana rakyat bisa dengan mudah percaya bahwa segala sesuatu yang mereka sampaikan adalah kebenaran yang mutlak. 

Maka dari itu lagi-lagi sikap setiap individu dalam menyikapi bahasa dalam pandangannya sendiri itu sangatlah penting, sebab selaras dengan apa yang di katakan Jhon Keating pada film Dead Poets Society tadi “Ada waktu untuk berani dan ada waktu untuk berhati-hati, sebab orang bijak mengerti apa yang harus dia lakukan”. Dari kata-kata ini bisa kita tarik satu benang merah bahwa betapa pentingnya kita menyikapi pemikiran kita sendiri sebab di waktu dan tempat berbeda ada orang yang berbeda pula.