“Kegiatan ini sangat seru,” ucap Nafia, salah-satu mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Sabtu, 28 Februari 2026, Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (IKAMABASTRA) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako menggelar kegiatan “SASTRA RELIGI” dengan tema “Menguatkan Nilai Religi, Merajut Silaturahmi melalui Apresiasi Sastra” yang dilaksanakan di Pelataran FKIP 13.
Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Pembina IKAMABASTRA, serta dewan alumni dan senior. Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars IMABSII. Mujizat, selaku ketua panitia, memberikan laporan kegiatan Sastra Religi, dilanjutkan dengan sambutan oleh Ario selaku Ketua Umum IKAMABASTRA. Kegiatan ini dibuka oleh Ibu Juniati, S.Pd., M.Pd. selaku Pembina IKAMABASTRA.
Seperti yang kita ketahui, kegiatan Sastra Religi merupakan kegiatan yang dilaksanakan sekali setiap tahun di bulan Ramadan. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antara mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, dosen dan pengurus IKAMABASTRA, serta dewan alumni dan senior. Meskipun di bulan puasa, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia tetap semangat dan antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Ada banyak penampilan dari setiap perwakilan kelas dan pengurus seperti puisi, menyanyi, dan teater. Salah-satu yang menarik dari kegiatan ini adalah penampilan puisi yang dibawakan oleh Pembina IKAMABASTRA, Ibu Hasnur Ruslan, S.Pd., M.Pd. yang berjudul “Laki-Laki dan Perempuan. ”
Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama tim jurnalistik, Reza, yang akrab disapa Eja selaku alumni senior, membagikan perspektifnya mengenai perhelatan Sastra Religi tahun ini. Meski mengapresiasi keberlanjutan tradisi acara tersebut, ia memberikan catatan kritis terkait keseimbangan konten. Menurutnya, masih terdapat ketimpangan yang cukup mencolok antara aspek estetika seni dan kedalaman substansi spiritual yang diusung.
"Kegiatannya sangat menarik, namun perlu ada esensi 'Religi' yang lebih nampak, di mana saat ini saya lihat hanya terdapat aspek sastranya saja," ujar Eja.
Pernyataan tersebut bukan sekadar kritik, melainkan sebuah refleksi agar penyelenggaraan di tahun mendatang mampu menghadirkan harmonisasi yang lebih utuh. Eja berharap panitia dapat menyeimbangkan kedalaman makna religius dengan keindahan artistik, sehingga tajuk 'Sastra Religi' benar-benar terepresentasi dalam setiap jengkal kegiatannya.
Sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur, seluruh rangkaian acara ditutup dengan kegiatan buka puasa bersama. Momen kekeluargaan ini kemudian diabadikan melalui sesi foto bersama dengan para peserta, panitia, dan tamu undangan yang sempat hadir.
Reportase : Tim 1 Dokumentasi : Panitia Pdd
.jpg)

Tidak ada komentar
Posting Komentar